Cikal bakal Binaya Foundation berakar dari Komunitas Forest Policy and Spatial Modeling (FPSM), yang didirikan oleh Rifqi Rahmat Hidayatullah, dosen Kehutanan Universitas Brawijaya, dan diketuai oleh Zhafran Hamid. Komunitas ini menjadi ruang intelektual dan praksis bagi pengembangan gagasan tentang kebijakan kehutanan, pemodelan spasial, serta pentingnya pengelolaan hutan yang kontekstual dan berbasis karakter ekologis tapak.
Berangkat dari dinamika diskusi, riset, dan keterlibatan lapangan tersebut, pada tahun 2023 Rifqi menginisiasi pembentukan Yayasan yang kemudian diberi nama Binaya Foundation (Yayasan Bhakti Bhumi Naraya) sebagai wadah yang lebih terstruktur untuk mengintegrasikan aksi, riset, dan pengabdian masyarakat dalam kerangka pengelolaan hutan yang berakar pada potensi lokal dan penghormatan terhadap keanekaragaman hayati asli. Inisiatif ini melibatkan mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Brawijaya, yaitu Muhammad Syarif Hidayatullah, Yuga Dwi Narvis Tyono, Aditia Adriana, Mody Gustian, dan Devina Agi Yulianisa dan didukungan oleh Sadam Husen Falahuddin.
Dalam perjalanan kelembagaannya, kepemimpinan Binaya Foundation terus berkembang secara kolektif dan adaptif. Direktur Eksekutif pertama dijabat oleh Muhammad Syarif Hidayatullah, kemudian dilanjutkan oleh Faldy Devalen Fehabtoro dan saat ini diemban oleh Erwin Budi Wijaya. Pergantian kepemimpinan ini mencerminkan semangat regenerasi, kolaborasi, dan komitmen berkelanjutan terhadap nilai-nilai ekologis yang menjadi fondasi yayasan.
Binaya Foundation adalah lembaga aksi, riset, dan pengabdian masyarakat di bidang kehutanan di Indonesia yang berpijak pada pandangan bahwa alam memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada manfaat ekonominya bagi manusia. Hutan dipahami bukan sekadar sumber daya, melainkan jejaring kehidupan yang memiliki hak untuk tetap utuh, beragam, dan berkembang sesuai dinamika alaminya.
Yayasan ini meyakini bahwa potensi lokal baik berupa pengetahuan ekologis masyarakat, karakter biofisik tapak, maupun keanekaragaman hayati asli bukan hanya aset pembangunan, tetapi bagian dari identitas ekologis suatu lanskap yang harus dihormati dan dijaga keberlanjutannya. Manusia ditempatkan sebagai bagian dari sistem ekologis, bukan sebagai pusat yang mendominasi dan menentukan arah alam.
Dalam praktik pembangunan kehutanan kontemporer, kecenderungan homogenisasi komoditas dan introduksi spesies non asli sering dipromosikan sebagai solusi cepat peningkatan ekonomi. Namun pendekatan tersebut merefleksikan paradigma reduksionis yang memandang hutan sebagai objek produksi. Dalam jangka panjang, model semacam ini berpotensi mengikis keutuhan ekosistem, menyederhanakan struktur kehidupan, serta melemahkan relasi ekologis yang menopang keberlanjutan bumi.
Sebagai alternatif, Binaya Foundation mengusung pendekatan pengelolaan hutan adaptif yang berakar pada prinsip deep ecology, dengan menempatkan Nature based Solutions (NbS) sebagai ekspresi pemulihan relasi manusia dengan alam, bukan sekadar instrumen teknis mitigasi krisis. Keberlanjutan dipahami sebagai upaya menjaga keseimbangan, keberagaman, dan integritas ekologis lintas generasi di mana kesejahteraan manusia tumbuh sebagai konsekuensi dari ekosistem yang sehat, bukan sebaliknya.
VISI
Menjadi lembaga terdepan dalam transformasi pengelolaan hutan adaptif di Indonesia yang berakar pada etika deep ecology, dengan menempatkan alam sebagai entitas bernilai intrinsik, menjaga integritas dan keberagaman hayati asli, serta memulihkan relasi timbal balik manusia dan alam melalui pendekatan berbasis potensi lokal dan Nature-based Solutions.
MISI
Memperkuat kesadaran ekologis dan kapasitas kelembagaan lokal dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian integral dari sistem ekologis, serta merevitalisasi pengetahuan ekologis lokal dalam menjaga keseimbangan dan keberlanjutan lanskap.
Mengembangkan riset, inovasi, dan pengabdian transformatif yang berlandaskan integritas ekosistem dan prinsip deep ecology, dengan menempatkan Nature-based Solutions sebagai upaya etis untuk memulihkan relasi manusia dengan alam serta memperkuat ketahanan sosial yang selaras dengan daya dukung biofisik setempat.
Melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati asli serta fungsi ekosistem hutan, sekaligus mendorong transformasi paradigma kehutanan menuju praktik yang kontekstual, adaptif, dan berkelanjutan, di mana kesejahteraan manusia tumbuh sebagai konsekuensi dari ekosistem yang sehat dan beragam.